Jumat, 14 Juli 2017

Beralaskan Cinta, Fasilitator GSC Tetap Setia di Wilayah Ekstrim

Perjalanan dari Tuburlay ke Renfaan melewat pantai

Ada yang menarik dari beberapa Fasilitator GSC Maluku yang ditugaskan pada wilayah Kecamatan ekstrim, mereka tampak begitu menikmati hari-harinya berjuang dengan fasilitas seadanya, akses jalan yang tidak layak, jaringan internet yang tidak terjangkau, transportasi terbatas bahkan listrik pun tidak normal seperti pada daerah perkotaan. Itu bukanlah kendala untuk mereka, karena sejatinya Fasilitator Kecamatan yang merupakan ujung  tombak dari program GSC ini merupakan laskar sejati yang ditugaskan untuk memberdayakan masyarakat miskin agar bisa mandiri dengan sumber daya yang telah tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik, memfasilitasi masyarakat supaya bisa mendapatkan layanan secara merata, serta membantu pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

Masuk Keluar Ohoi Dengan Jalan Kaki Berkilometer

Katakanlah Ricardho. E. A. Somnaikubun FK GSC Kecamatan Kei Besar Utara Timur, Kabupaten Maluku Tenggara dengan assistennya, Simson M. Rahayaan, setiap kali melakukan kunjungan ke beberapa Ohoi/Desa selalu berjalan kaki, bukan karena mereka tidak memiliki kendaraan tetapi akses jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui dengan kendaraan.
Di Kecamatan Kei Besar Utara Timur  memilki 30 Ohoi/Desa yang berada di pesisir Pulau Kei Besar sebelah timur. Dari 30 Ohoi tersebut ada yang sudah di aspal namun ada juga yang belum, bahkan jalan setapak pun tidak ada.

Kondisi Jalan Yang Masih Dalam Pekerjaan
Akses Jalan yang sudah di aspal baru menjangkau 11 Ohoi, meskipun jalan aspal tersebut tidak terlihat licin dan kurang lebar, namun setidaknya bisa mempermudah masyarakat dalam beraktivitas. 11 ohoi tersebut adalah Yamtimur, Kilwair, Tuburngil, Ohoiwirin, Hollay, Hoko, Hollat, Hollat Solair, Ohoifau, Ohoifaruan dan Ohoi Watlaar.

Sementara 19 ohoi tersisa dapat ditempuh dengan akses jalan gusur (belum diaspal) yakni Ohoi Banda Efruan, Banda Suku 30, Banda Ely, Tuburlay, Fanwav, Renfaan, Renfaan GPM, Renfaan Islam, Langgiar Haar, Ohoimejang, Ur, Haar Wassar, Haar Ohoiwait, Haar Ohoimel, Haar Renrahantel, Haar Ohoimur GPM, Haar Ohoimur RK, Ohoiraut, dan Ohoi Soin. Dari 19 Ohoi yang belum memiliki jalan aspal tersebut mengharuskan warga setempat untuk melakukan aktivitas dengan berjalan kaki  bila hendak bepergian.
Kondisi Jalan Aspal di Kecamatan Kei Besar Utara Timur

Di Kecamatan Kei Besar Utara Timur, akses perhubungan antar ohoi sangat dipengaruhi oleh musim. Disana terdapat dua musim yaitu Musim Timur (dari bulan Maret s/d bulan September) dan Musim Barat (dari bulan Oktober s/d Febuari). Pada Musim Barat terjadi Gelombang laut sehingga akses transportasi ke ohoi-ohoi tidak dapat menggunakan transportasi laut. Transportasi laut hanya dapat digunakan pada Musim lainnya, namun tidak ada transport reguler sehingga harus di carter.

Untuk daerah lokasi GSC yang harus lewati laut adalah Ohoi Renfaan, Renfaan GPM, Renfaan Islam, Langgiar Haar, Ohoimejang, Ur, Haar Wassar, Haar Ohoiwait, Haar Ohoimel, Haar renrahantel, Haar Ohoimur GPM, Haar Ohoimur RK, Ohoiraut, Soin.
 
Transportasi Laut yang biasa digunakan FK, Asisten FK bersama UPK, POKJA dan PL

Melihat kondisi tersebut, tidak mengurangi sedikit pun semangat FK dan Asisten FK Kei Besar Utara Timur dalam memperjuangkan hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan. Meskipun harus berjalan kaki dari Ohoi ke Ohoi, melewati pesisir pantai, menyeberangi lautan, mendaki jalan yang terjal dan licin bila musim hujan, tapi mereka tetap berusaha keras untuk bisa sampai ke ohoi.

Richardo Somnaikubun yang sudah lima tahun lamanya menjadi Fasilitator di Kabupaten Maluku Tenggara mengaku enjoy menjalani hari-harinya di wilayah ekstrim, meskipun awalnya dia bertugas pada kecamatan Kei Kecil, kini dirinya telah tiga tahun lamanya melakukan perjuangan di Kei Besar Utara Timur dengan Asisten FK Simson, M. Rahayaan yang tak lain adalah mantan PL di kecamatan Kei Besar yang juga merupakan salah satu wilayah ektrim di Maluku Tenggara.

 Richardo E. A. Somnaikubun FK GSC Kecamatan Kei Besar Utara Timur, melintasi hutang saat melakukan perjalanan dari Ohoiraut ke Haar Ohoimel 

Kondisi geografis Kei Besar Utara Timur, menjadikan Tim Fasilitator Kecamatan merasa terbiasa bahkan seperti melakukan petualangan di daerah yang sering juga disebut dengan istilah Raschab Maur Ohoiwut yakni wilayah kumpulan beberapa Desa Adat. Dengan menggunakan ransel, pembekalan seadanya mereka pun bergegas melakukan perjalanan ke Ohoi untuk melakukan fasilitas terhadap masyarakat. Misalnya ketika mereka tiba hendak ke Ohoi Renfaan, maka harus melewati Ohoi Tuburlay terlebih dahulu menelusuri pesisir pantai yang penuh dengan batu-batu besar. Namun tiada pilihan lain akses jalan ini sebagai alternatif tercepat untuk mencapai lokasi yang dituju.

Menurut Ricardo, sebenarnya ada jalan setapak untuk menuju Ohoi berikutnya, akan tetapi jalan tersebut masih dalam kondisi setapak tanah belum di aspal atau dibikin rabat beton, sehingga bila musim hujan tiba,  jalan tersebut licin untuk dilewati apalagi berada pada posisi di atas, maka para pejalan kaki diwajibkan untuk mendaki, sehingga alternative yang lebih memudahkan mereka adalah dengan melintasi pesisir pantai sepanjang 1,5 Km.

Jadi bayangkan saja jika kondisi seperti ini diperhadapkan dengan musim ombak dan musim hujan, sudah tentunya akses jalan menuju Ohoi Renfaan tidak bisa dijangkau lagi.
Kondisi sulitnya akses jalan lainnya yang sering di lewati oleh Tim Fasilitator Kecamatan Kei Besar Utara Timur adalah Perjalanan dari Ohoi  Banda Ely ke Fanwav yang harus melalui menaiki 1000-lebih anak tangga karena letak Ohoi Fanwav berada di dataran tinggi (diatas 100 DPL), jalan menuju Ohoi Banda Ely pun juga tidak bisa dilewati dengan kendaraan, sebab saat ini masih dalam proses perbaikan jalan.

Minim Penerangan, Tim Fasilitator Kecamatan Harus Patungan

Terkait dengan kondisi penerangan, di Kecamatan Kei Besar Utara Timur, tidak semua daerahnya bisa menikmati listrik secara normal, dari 30 Ohoi yang disebutkan diatas sampai saat ini baru 2 ohoi yang mendapatkan penerangan dari PLN yakni ohoi Yamtimur dan Kilwair. Itu pun hanya bisa dinikmati dari jam 6 sore sampe jam 12 siang. Sementara untuk ohoi yg lain ada bantuan dari Bupati untuk Mesin Listrik dengan bahan bakar solar yang bisa digunakan dari jam 6 sore sampai jam 10 malam saja dengan Retribusi per KK Rp. 50.000/bulan.     


Saat ini Tim Fasilitator Kecamatan berkantor di rumah Pendamping Lokal (PL), karena sejak PNPM MPd berakhir mereka terkendala dengan biaya sewa kantor, hal ini disebabkan karena biaya operasionalnya kecil, mereka harus mencari kontrakan yang juga disediakan mesin, sampai saat ini mereka masih menggunakan mesin di rumah PL, itu pun biaya pemakainya harus ditanggung bersama oleh FK, Asisten FK  dan operasional UPK, dengan pemakaian solar 5 liter bisa diirit selama tiga hari mulai dari jam 7 malam sampai jam 12 malam. (RL)       


Keterangan:
Ohoi : Desa
Share: