Tampilkan postingan dengan label Fasilitator GSc. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fasilitator GSc. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juli 2017

Demi Membangun Negeri, Rela Menelusuri Jalan Berlumpur

Selain di Kecamatan Kei Besar Utara Timur seperti pada postingan sebelumnya Baca Disinikondisi lain yang mengharuskan Tim Fasilitator Kecamatan melakukan perjuangan super ekstra adalah di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. 
Kecamatan ini sebenarnya tergolong kecamatan sangat sulit, memiliki 20 Negeri/Desa, dibeberapa Desa lokasi GSC sampai saat ini akses jalan kesana masih dibilang sangat memprihatinkan, seperti pada negeri administratif Solea, Kaloa, Manusela, Kanikeh, Negeri Administrativ Elemata, Negeri Administrativ Hatuolo dan Negeri Maraina.
Sama halnya dengan Kondisi Kecamatan Kei Besar Utara Timur, di Seram Utara listriknya juga tidak normal, hanya bisa berfungsi dari jam 5 sore sampai jam 8 pagi.
Khusus untuk Negeri Administratif Solea, perjalanan yang harus ditempuh kesana membutuhkan waktu 7 jam lamanya bila berjalan kaki dari Ibu Kota Kecamatan Seram Utara, disana tidak ada angkutan reguler sehingga masyarakat terpaksa berjalan kaki, posisi wilayahnya ada pada dataran tinggi (Pegunungan Manusela). Akses jalan tanah, berlumpur dan beberapa jembatan seadanya menyebabkan Negeri Solea ini kurang mendapatkan pelayanan, terutama pelayanan kesehatan dan pendidikan. Disinilah tugas berat Fasilitator untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat setempat.

Asisten FK Seram Utara bersama salah satu masyarakat
Dalam perjalanan menuju Kota usai melakukan MD SOS di Neg. Administratif Solea
Kondisi geografis yang dibilang sangat sulit tersebut, tidak menjadi halangan untuk mereka berjuang menelusuri lumpur dan jalan yang tidak layak, ini malah menambah semangat untuk membantu memberdayakan masyarakat walaupun harus melepas sandal dan sepatu untuk menuju ke Negeri Administratif Solea. Salah satunya dengan kegiatan sosialisasi program GSC untuk menjembatani kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang selama ini kurang dirasakan oleh masyarakat.


Masyarakat sangat berterima kasih dan ingin terus agar Program GSC tetap berlanjut, serta memperhatikan kebutuhan dasar yaitu pendidikkan dan kesehatan. Pada saat tim Fasilitator Kecamatan melakukan Musyawarah Desa Sosialisasi di Negeri Solea, ada banyak masalah yang mereka dapatkan dari masyarakat terkait keberpihakan dan pelayanan yang mereka rasakan. Hal ini juga berkaitan dengan letak Negeri Solea yang jauh dari pusat kota mempengaruhi semua bidang sehingga terkesan tertinggal.

Namun dengan kehadiran Fasilitator Kecamatan di Negeri tersebut, masyarakat merasa kebutuhannya yang selama ini tidak bisa dijangkau dapat terjawab, bahkan salah satu masyarakat menyampaikan harapannya kepada Tim Fasilitator Kecamatan, 

“Ibu katong mau ibu dong saja yang kelola dana untuk pendidikan dan kesehatan, sebab GSC paleng perhatikan katong, katong paleng rasa sanang", Ujar salah satu masyarakat Solea.

Dengan bahasa lokalnya salah satu masyarakat setempat menyampaikan harapannya usai MD Sosial kepada Hedia Pattiwael Asisten FK Seram Utara, yang jika diartikan bahwa besar harapan masyarakat menginginkan agar GSC tetap berlanjut, mengelola dana untuk pendidikan dan kesehatan, karena hanya GSC yang sangat memperhatikan mereka, masyarakat merasa senang dengan kehadiran GSC.

Mendengar ungkapan masyarakat tersebut, sudah bisa diketahui bahwa pengaruh Fasilitator Kecamatan dalam meyakinkan masyarakat untuk bersama berpartisipasi membangun negeri dari keterpurukan. Bahwa keberadaan Fasilitator GSC sudah tidak diragukan lagi.

Disisi lain, pihak Fasilitator Kecamatan sendiri sebenarnya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah Negeri, semua proses berjalan dengan baik. Sehingga kegiatan Pelayanan Sosial Dasar masuk dalam APBDes Negeri Administratif Solea seperti Pemberian Makanan Tambahan untuk balita dan Ibu Hamil, Peningkatan Kapasitas Kader dan insentifnya, penyediaan obat-obatan, serta PAUD.  

Penandatanganan Berita Acara MD SOS
Kepercayaan masyarakat terhadap Tim Fasilator GSC justru menambah angin segar untuk terus memperjuangkan hak-hak mereka, meskipun bertugas pada lokasi sulit tetapi keyakinan bersama untuk membangun negeri sudah menyatu dengan masyarakat. (RL)



Share:

Jumat, 28 April 2017

Sumber Foto : umustlucky.blogspot.co.id

Konsultan & Fasilitator Harus Tahu 10 Budaya Malu

Jika Hatimu Hidup, Sejatinya Ada Rasa Malu Yang Berkembang Biak Disitu
Namun,  Bila Kau Kehilangan Rasa Malu, Itu Artinya Hatimu Sudah Mati.

Malu adalah suatu hal dimana kita diliputi oleh perasaan sangat tidak enak di hati yang disebabkan oleh merasa hina, rendah, tak mampu, ataupun karena ketahuan berbuat sesuatu yang kurang baik menurut norma, berbeda dengan kebiasaan, atau mempunyai cacat / kekurangan lainnya. Jadi kalau mau dinilai, rasa malu itu ada yang berakibat ringan adapula yang berat. Tetapi akibat yang ada itu,  akan berbeda dampaknya pada masing-masing orang. Artinya jika suatu perbuatan yang kurang baik dilakukan oleh dua orang dan perbuatan itu diketahui oleh orang lain, dampaknya bagi kedua orang tersebut akanlah berbeda. Mungkin saja buat yang satu orang akan berakibat ringan akan tetapi buat yang satunya lagi bisa berakibat berat. Ini disebakan oleh tingkat rasa memiliki malu didalam diri seseorang, jika rasa malu yang dimilikinya besar maka rasa bersalah dan hina itu akan sangat berdampak, begitu juga sebaliknya.

Bertolak dengan itu, mari kita lihat kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana etika sosial dan budaya sangat dijunjung tinggi dengan harapan masyarakat dapat menampilkan sikap jujur, saling peduli, saling memahami, menghargai, mencintai dan saling menolong antar sesama manusia.
Memiliki sikap positif yang sudah disebutkan diatas kurang lengkap jika tidak sejalan dengan menumbuh kembangkan budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama maupun nilai-nilai luhur bangsa.

Sumber Foto : librosantropologiamedica.blogspot.co.id
Rasa malu sangat penting untuk dimiliki siapa saja, dengan begitu kualitas iman dan hati dapat terukur, apalagi bagi mereka yang bekerja untuk masyarakat karena mendapat tugas negara. Ini  wajib diterapkan dalam lingkungan profesional kita.

Pada tulisan ini, kami hanya ingin fokus pada dunia konsultan program pemberdayaan masyarakat perdesaan saja , apakah kita sudah bersikap profesional?, bersikap jujur? Bersikap adil atas pemenuhan hak dan kewajiban?, jangan sampai kita lebih overdosis dalam menuntut hak dibandingkan dengan melunasi kewajiban, maka disitulah pentinya miliki rasa malu . Bahkan budaya keteladanan pun harus diwujudkan dalam setiap perilaku para fasilitatot dan konsultan, baik formal maupun informal pada setiap jenjang penugasan dan bidang pekerjaannya.

Lalu apa sajakah budaya malu yang bisa kita terapkan di dalam lingkungan profesional kita?, jawabannya adalah malu kalau tidak berbuat baik di dalam pekerjaan kita, seperti yang akan diuraikan berikut ini:

Sumber Foto : goingtojannah.wordpress.com

10 Budaya Malu Konsultan dan Fasilitator:
  1. Malu datang terlambat dan pulang cepat saat melaksanakan tugas
  2. Malu sering meninggalkan lokasi tugas
  3. Malu bekerja tanpa tanggung jawab
  4. Malu laporan dan data terlambat
  5. Malu admiinistrasi terbengkalai
  6. Malu tidak capai target dan capaian
  7. Malu menuntut hak dengan melupakan kewajiban
  8. Malu kurang membangun komunikasi
  9. Malu kurang pengetahuan dan ketrampilan
  10. Malu kurang inovasi dan kreasi.

10 point diatas wajib ditanamkan dalam diri para konsultan dan fasilitator, agar dapat terhindar dari 10 hal yang memalukan diri sendiri. Dengan demikian, jika sudah dapat dijalankan dengan baik, maka secara tidak langsung kita telah membantu pemerintah dalam mengurangi angka kemalasan dan tidak disiplinan di negeri ini.

Mari bersama kita tanamkan pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa dengan mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa yang masih memiliki hati. (RL)



*Editor   : Dwi


Share: