Rabu, 04 Januari 2017

Demi Bocah Gizi Buruk, Pelaku GSC Rela Menggadaikan Perhiasannya

Desy Fakaubun : Balita Gizi Buruk
Gizi buruk disebabkan karena kurang adanya kesadaran tentang pentingnya pemberian nutrisi kepada anak, sedangkan kurang gizi di sebabkan karena kurangnya asupan energy dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Kasus gizi buruk bukan masalah baru di Indonesia, hal ini kerap terjadi pada keluarga miskin yang tinggal didaerah minim informasi. Seperti yang dialami oleh Desy Fakaubun balita yang baru berusia 2 Tahun 8 Bulan,  hampir menghembuskan nafas terakhirnya karena kurang gizi .

Desy Fakaubun merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Abdul Hamid Fakaubun dan  Fani, yang merupakan warga Dusun Lohi Negeri Sepa kecamatan Amahai , Kabupaten Maluku Tengah. Mereka tinggal di rumah yang  hanya berukuran 3x3 meter dan tidak memiliki MCK.

Kehiduapan mereka tergolong miskin, Ayahnya bekerja sebagai petani  dengan penghasilan Rp.200,000 sampai Rp. 250.000 per bulan, sementara ibunya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sesekali membantu bapaknya. Kebutuhan gizi yang seharusnya didapatkan oleh Dessy dan saudara-saudaranya akhirnya terbengkalai begitu saja, disebabkan karena kebutuhan yang tidak cukup.
Sejak usia 2 tahun 3 bulan Desy mengalami pertumbuhan yang tidak normal dan tidak pernah mendapatkan makanan bergizi.

Melihat kondisi tersebut, pada Maret 2016 lalu seorang tetangga memberitahukan masalah ini kepada bidan desa A. Tuakia, Amd.Keb, Namun saat itu bidan desa tidak yakin, karena bulan sebelumnya Desy masih sempat mengikuti posyandu dan hasil timbangannya bagus, berdasarkan laporan warga dan untuk memastikan informasi tersebut bidan desa dan petugas gizi langsung ke rumah Desy, sesampai di rumahnya, bidan dan petugas gizi  kaget melihat kondisi yang yang dialami oleh Desy saat itu, padahal bulan maret hasil timbangannya 10Kg, namun setelah di timbang lagi hasilnya turun sampai 7,9kg.
Melihat hasil timbangan yang turung tersebut, bidan desa menanyakan penyebabnya pada orang tua Desy, mereka hanya bisa menjawab bahwa selama sebulan desy mengalami influenza dan sesak napas namun tidak ada biaya untuk pengobatan.

Petugas gizi menyarankan agar segera melakukan kontrol perawatan ke Dokter, namun orang tua Desy hanya bisa meneteskan air mata dan mengatakan untuk mencari sesuap nasi saja sulit, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan perut anak-anak dalam waktu sekejab apalagi harus ke dokter yang tentunya mengeluarkan biaya besar.

untuk mencari sesuap nasi saja kami tidak bisa dapatkan dalam waktu sekejab untuk memenuhi kebutuhan kami dan anak-anak kami, apalagi sampai ke Dokter yang nantinya biaya pengobatannya sangat Besar”. Ungkap orang tuanya.

Kondisi Rumah Desy Fakaubun
Pada saat mereka membicarakan perawatan Desy,  bidan desa A. Tuakia, Amd.Keb sengaja masuk keruang belakang untuk memeriksa lingkungan rumahnya, dan ditemuinya kondisi rumah yang kurang steril untuk kesehatan desy, sehingga  pihaknya menyatakan bahwa Desy harus segera ditangani oleh Dokter, Namun lagi-lagi keluarganya berdalih tidak mampu untuk membiayai pengobatan tersebut, meskipun petugas gizi sudah menerangkan betapa pentingnya  kesehatan, namun tetap saja orang tua Desy cuma bisa meneteskan air mata.

Sambil menangis, orang tuanya berkata kalau memang tidak bisa tertolong kami mau berbuat apa sedangkan anak- anak kami yang lain juga membutuhkan makanan dan minuman juga”, ungkap Fani.

GSC Bergerak Tangani Kasus Gizi Buruk

Melihat kondisi yang memilukan itu, bidan desa bersama petugas gizi pamit dan langsung menemui pelaku Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) di Negeri Sepa, untuk memberitahukan kondisi Desy dan menyarankan agar segera membuat rapat dengan masyarakat dan Pemerintah Negeri, agar bisa mengambil keputusan dalam penanganan kasus gizi buruk pada warga miskin.

Setelah pertemuan selesai bidan desa yang juga merupakan salah satu pelaku GSC di Negeri Sepa  langsung menghubungi Fasilitator Kecamatan Amahai Agustina Ernawati Tokndekut dan menceritakan semua yang menyangkut dengan kebutuhan kesehatan Desy, FK Amahai pun meresponyna dengan baik.

Namun, pada saat itu di kecamatan belum bisa melakukan pencairan karena pelaku Kecamatan sementara melakukan audit pembukuan di Negeri-negeri, sehingga dianjurkan untuk  melakukan pinjaman pihak ke tiga oleh pelaku.

Langkah Penyelamatan “Gadai Perhiasan”

Atas anjuran tersebut, dengan melihat kondisi Desy yang sangat mendesak membutuhkan pertolongan, bidan desa A. Tuakia, Amd.Keb., yang juga merupakan pelaku GSC , langsung mengambil keputusan untuk melakukan penitipan perhiasan berupa kalung, cincin dan gelang di pegadaian, keputusan ini juga diijinkan oleh suaminya, asalkan nyawa desy segera tertolong. Dari hasil pengadaian perhiasan tersebut, uangnya langsung digunakan untuk penanganan Desy serta pengobatan selanjutnya.

Pada bulan Mei 2015 A. Tuakia, Amd.Keb mendampingi Fani mengantarkan Desy ke Rumah Sakit Umum Masohi untuk melakukan pemeriksaan sekaligus rongeng, dan hasil pemeriksaannya positif dahak paru, sedangkan gizinya di nilai dari BB dan usia.

Pihak RSUD Masohi membuat rujukan  agar Desy segera dibawa ke Puskesmas Amahai untuk melakukan pemeriksaan  lanjutan dan hari itu juga mereka berangkat ke Puskesmas Amahai, namun kepala Puskesmas tidak berada di tempat sehingga petugas Puskesmas menyarankan untuk kembali besok.

Pelaku GSC : Sang Penyemangat

Setelah sampai di rumah, orang tuanya tidak mau lagi untuk melanjutkan pemeriksaan karena memikirkan tak ada biaya lagi, tetapi pelaku GSC tetap memberikan dukungan dan menjelaskan bahwa semua biayanya akan ditangani oleh program GSC.

berapun biaya yang di keluarkan itu bukan urusannya bapak atau Ibu tapi itu urusannya kami pelaku GSC Di Negeri karena program GSC yang akan membiayai semua kebutuhan yang di perlukan untuk desy”, tegas Tuakia.

Setelah mendengar penjelasan tersebut keluarganya hanya bisa menangis dengan mengucapkanan terimak kasih kepada program GSC serta pelaku yang  sudah membantu mereka sampai pada pemeriksaan kelanjutan.

Esok harinya mereka berangakat lagi ke Puskesmas Amahai, sesampai disana, Dokter menyuruh untuk menginap agar petugas tetap melakukan pemantauan pada gizi dan TB paru desy, namun lagi-lagi orang tuanya tidak mau dengan alasan mereka tidak mempunyai uang, padahal Tuakia sudah berkali-kali menjelaskan agar tidak terbebani dengan biaya pengobatan tersebut, orang tuanya tetap tidak mau dengan alasan ketiga anaknya  yang lain juga masih kecil, dan tidak bisa tinggal sendiri sedangkan bapaknya harus mencari nafkah untuk kebutuhan mereka sehar-hari.

Akhirnya Dokter hanya bisa memberikan Obat TB dan memintah bidan desa untuk melakukan konsultasi pada bagian gizi di Puskesmas Negeri Tamilouw untuk pemulihan dan pengobatan gizi buruknya.

Selesai dari puskesmas Amahai, Tuakia langsung menghubungi Agustina Ernawati Tokndekut selaku Fasilitator Kecamatan Amahai untuk menjelaskan kelanjutan yang nantinya akan di lalui oleh Desy bahwa akan ada konsultasi dengan petugas Puskesmas di Negeri Tamilouw untuk kelanjutan pengobatan dan pemulihan gizi buruknya,.

Setelah melakukan konsultasi dengan petugas gizi di Puskesmas Tamilouw, mereka dianjurkan untuk  terus memantau kesehatannya selama 3 bulan untuk gizi buruknya dan 6 bulan untuk masalah TBnya, serta melakukan PMT pemulihan oleh petugas gizi dengan bahan-bahan yang diberi saat itu adalah susu boneto, minyak sayur, mineral mix, dan gula, selama 3 bulan untuk PMT Pemulihannya dan diberikan susu setiap bulannya .

Setelah berproses dengan PMT pemulihan selama empat bulan, berat badan desy bertambah 4 kg, ini sudah termasuk berat badan normal, namun tetap dilanjutkan dengan program 6 bulan untuk masalah TB. Hingga saat ini desy sudah bisa bermain dengan teman-temannya dan program TB pun  sudah berakhir.
Desy Fakaubun, setelah penanganan

Ucapan terima kasih dan cucuran air mata yang tak terhingga dari orang tua
Desy kepada program GSC, Bidan Desa, petugas gizi dan pelaku Program GSC Negeri Sepa, saat tidak ada lagi harapan dari keluarga untuk kelansungan hidup Desy, Program GSC hadir membawa berkat, hingga saat ini Desy sudah bisa bermain dan berkumpul bersama teman-teman sebayannya.


Sumber Kisah : FK GSC Kecamatan Amahai - Kabupaten Maluku Tengah

Editing : Dwi-Russ

******
Share: