Jumat, 25 Agustus 2017

12 Tahun Stera Menahan Sakit, Akhirnya Ditangani Oleh GSC

Stera Swin Papilaya saat mendapat perawatan

Di Negeri Abubu Kecamatan Nusalaut Kabupaten Maluku Tengah, hidup pasangan suami istri Fredy Papilaya dan Magdalena Papilaya, mereka memiliki empat orang anak dengan kehidupan pas-pasan. Kondisi itu semaking menyulitkan setelah mengetahui bahwa salah satu anak mereka mengalami kelainan.

Stera Swin Papilaya (13) begitulah nama lengkap anak yang lahir dari pasangan Fredy dan Magdalena. Sejak berusia 3 bulan, Stera telah menderita penyakit di bagian kelamin, yang kemudian diketahui adalah Hernia.

Saat berusia 3 tahun, stera pernah dibawah ke dokter ahli anak di Apotik Natsepa Ambon, tetapi dokter belum bisa menangani karena usianya yang masih belia, saat itu dokter menyarankan agar Stera baru bisa di operasi pada usianya 10 tahun, Namun karena kondisi ekonomi yang tidak mencukupi, stera baru mendapat penanganan secara serius ditahun 2016.

Semakin bertambah usianya penyakit ini kian menyiksa, setiap aktifitasnya baik di Sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya dia selalu merasa kesakitan, Misalnya dalam mengkuti jam pelajaran seperti olahraga, Strera terpaksa harus melakukannya dengan menahan rasa sakit bahkan sering alpa mengkutinya, sehingga dia mulai jarang ke sekolah. Lebih menyakitkan lagi dia selalu diejek oleh teman-temannya, hingga membuat siswi kelas I SMP Negeri Abubu ini menjadi malu bahkan menangisi keadaan yang menyiksanya selama 12 tahun.

Orang tuanya pun seperti tak berdaya melihat kondisi anak perempuan mereka dan hanya bersabar untuk menunggu kiranya ada pihak yang bisa membantu pengobatan, karena mereka sendiri tidak memiliki penghasilan tetap dan tergolong keluarga miskin di negeri Abubu.

Penanganan Oleh GSC

Mengetahui kondisi Stera, melalui Yos Wattimena yang juga merupakan pelaku Negeri yakni dari unsur TPMD, mereka menyampaikan kondisi tersebut pada saat Musyawarah Negeri Sosialisasi tahun 2014 lalu, sehingga penanganan pengobatan untuk Stera disepakati sebagai usulan kegiatan yang didanai program GSC Negeri Abubu T.A 2014.

Sebagai langkah awal penanganan, pelaku GSC Negeri Abubu langsung bertindak untuk melakukan pemeriksaan ke dokter bulan November 2014 lalu, di Puskesmas Negeri Ameth Kecamatan Nusalaut.

Namun setelah ada rujukan dari dokter untuk pananganan selanjutnya, kondisi Stera belum bisa ditangani, hal ini membuat orang tuanya sempat kecewa karena pengurusan administrasi di puskesmas, serta terundanya penanganan dari GSC disebabkan adanya kekosongan FK ditahun 2014.

Selain kekosongan FK, hambatan penanganan lainnya karena terjadi revisi kegiatan tahun anggaran 2014 melalui Musyawarah Khusus Negeri di akhir tahun 2015, proses revisi kegiatan tahun 2014 bisa dibilang cukup lama dikarenakan tidak ada data yang valid di desa setelah FK lama meninggalkan lokasi.
Beruntunglah setelah adanya pengisian FK ditahun 2015 atas nama Agnes S.E. Haliwela, sehingga ditetapkanlah pembiayayaan terhadap Stera, dibuatkan RABnya untuk pembiayaan kegiatan yang dimaksud ,  barulah ditahun 2016 dia bisa di operasi.

Pada Juli 2016 lalu, ada pengobatan gratis yang dilakukan oleh TNI di Puskesmas Ameth Kecamatan Nusalaut. Saat itu mantan FK Nusalaut Agnes S.E. Haliwela (kini telah direlokasi ke Kecamatan Teluk Elpaputih) melakukan koordinasi dengan Pelaku Negeri untuk membawa stera ke pengobatan gratis agar dapat diperiksa oleh dokter sehingga mereka bisa mengetahui kondisi stera, dan mendapat rujukan untuk pengobatan lanjutan ke Rumah Sakit.

Setelah diperiksa oleh dokter ahli beda, stera disarankan agar segera di operasi. Kondisi tersebut membuat orang tua tidak bisa berbuat apa-apa lagi.  Sehingga FK dan para pelaku negeri mengambil tindakan untuk menanganinya, yang kebetulan nama Stera pernah diusulkan sejak tahun 2014, namun karena adanya kekosongan FK dan revisi kegiatan sehingga penanganannya tertunda sampai  Agustus 2016, tepat stera berusia 12 tahun.

Dengan dana awal yang diusulkan saat itu untuk penanganan Stera adalah Rp. 4.344.797.00, kemudian direvisi pada tahun 2015 senilai Rp.4.703.000, alasannya untuk RAB yang pertama tidak terinci dengan baik (tidak ada biaya transportasi).  

Selama setahun Stera menunggu untuk diobati, dana GSC kembali bisa disalurkan, penanganan untuk Stera akhirnya dapat dilakukan. Pelaku GSC negeri Abubu (ibu Yos Wattimena) mendampingi Stera untuk melakukan penanganan dengan pendanaan dari program GSC T.A 2014 yang telah direvisi.

Bulan Agustus 2016 lalu, Stera menjalani operasi Hernia di Rumah Sakit Tentara (RST) Ambon. Setelah operasi dilakukan dan melalui perawatan yang intens dari tenaga kesehatan maupun orang tuanya, akhirnya dia bisa disembuhkan dan bebas dari penyakit yang dideritanya itu.

Setelah mendapat penanganan dari GSC, Stera bisa kembali sekolah dan bermain seperti anak-anak yang lain
Kini Stera telah kembali bersekolah dan melakukan aktifitas sehari-hari seperti teman-temannya yang lain, Stera sudah pulih 100%, bahkan dalam pergaulan sudah tidak merasa malu dan kaku lagi. Disekolah dia aktif seperti teman-teman yang lain dan juga sangat aktif mengikuti kegiatan ekstra sekolah.

Meskipun proses penangan yang cukup lama, tetapi orang tua merasa puas dengan proses Yang sudah stera dapatkan.

“Terima kasih GSC karena telah membantu menolong anak kami sehingga dia bebas dari rasa sakit dan malu karena penyakitnya”, demikian ucapan terima kasih yang disampaikan oleh orang tua Stera.*

**
Penulis : Thomas Wattimena (FK GSC Kecamatan Nusalaut)
Editor   : R. Leikawa (Supporting Staff GSC Maluku)

















Share:

Selasa, 22 Agustus 2017

Berkat Intervensi GSC, Tania Rahkbauw Bisa Belajar Dengan Baik.

Tania Rahakbauw di dampingi Pelaku GSC Kei Besar saat melakukan Pemeriksaan. Dok GSC Kei Besar

Tania Rahakbauw, saat ini berusia 14 Tahun dan tercatat sebagai siswi Kelas VIII pada SMP Satu Atap Yamtel - Waurtahait.  Tidak ada yang aneh, Tania sekolah, belajar, bermain, serta membantu orang tua sama seperti anak-anak lain di kampugnya, Desa Waurtahait Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara.

Dia terlihat normal pada siang hari, aktif tanpa ada masalah.  Namun, kondisinya menjadi lain ketika hari beranjak senja sampai malam tiba, Tania hanya dapat berdiam diri dikamarnya, aktivitas belajar pun terhenti, bahkan tidak bisa bergerak bebas seperti teman-temannya.

Kondisi ini telah berlangsung ± 2 tahun, sejak Tania berada di kelas VI Sekolah Dasar. Tentunya sangat menghambat dirinya untuk belajar pada saat malam hari, seperti yang dilakukan oleh teman-temannya.

Hasil Pendataan KPMD, Tania Masuk Sasaran Prioritas

Setelah Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), atau dalam istilah masyarakat Kei  KPMO, bersama dengan TPMD/TPMO melakukan pendataan di masyarakat, mereka menemukan permasalahan yang di hadapi Tania.

Dari hasil temuan tersebut, pelaku GSC langsung bertindak untuk segera melakukan koordinasi dengan Staf Pemerintah Ohoi Waurtahait agar menetapkan Tania masuk dalam sasaran yang harus diprioritaskan dengan jenis usulan kegiatan yang  bisa menjawab permasalahan Tania Rahakbauw.
Lewat alokasi dana Program GSC Tahun Anggaran 2015 lalu, anak berkulit hitam manis itu,  diintervensi melalui jenis kegiatan Pemeriksaan dan Pengadaan Alat Bantu bagi ABK. 

Tania dibawa ke Puskesmas Elat untuk diperiksa langsung oleh Dokter Puskesmas, sekaligus memberikan rujukan ke RSUD Karel Satsuitubun Langgur. Berdasarkan rujukan tersebut, Tania didampingi Pelaku Pelaksana Kegiatan (PK) Ohoi Waurtahait dan Bendahara UPK membawanya ke RSUD Karel Satsuitubun di Langgur.

Proses Pemeriksaan . Dok. GSC Kei Besar

Setelah diperiksa, ternyata diketahui bahwa dia mengalami Rabun Senja, Dokter memberikan pengobatan, dan merekomendasikan adanya bantuan alat kaca mata sehingga tidak perlu Rawat Inap.

Proses selanjutnya, Pelaku GSC membawa dirinya ke Optik Internasional yang juga berlokasi di Langgur.  Setelah dilakukan pemeriksaan, akhirnya Tania Rahakbauw dibantu dengan menggunakan kaca mata.

Seluruh pendanaan untuk transportasi, akomodasi, dan biaya pemeriksaan juga pengadaan alat bantu kaca mata tersebut dibiayai oleh Dana BLM Program GSC Tahun Anggaran 2015 sebesar Rp. 2.500.000.

Kerjasama Yang Baik Tidak Mengkhianati Hasil

Berkat kerjasama dan doa, Tuhan memberikan kasih-Nya sehingga Tania sudah bisa beraktivitas seperti biasa dengan teman-temannya.
Malam yang dulu dilalui dengan berdiam diri, sekarang berubah total.  Dia mulai rajin belajar, baik sendiri maupun bersama teman-temannya. Sudah tidak ada lagi gangguan penglihatan pada malam hari, senang rasanya melihat kondisi Tania kembali pulih seperti anak-anak seusianya.

Ungkapan syukur tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, juga terhadap adanya Program Generasi Sehat dan Cerdas yang turut membantu, teman-teman pelaku Program GSC, Aparatur Pemerintahan Ohoi (Desa) Waurtahait, dan Dinas Layanan Kesehatan baik dari Puskesmas Elat maupun Dokter dan Staf RSUD Karel Satsuitubun Langgur.

Kondisi Tania Rahakbauw  Saat ini. Dok GSC Kei Besar

Ini adalah bentuk intervensi Program Generasi Sehat dan Cerdas Kecamatan Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara yang ikut membantu sasaran Non User agar tidak terputus masa depannya.  Membantu anak usia sekolah agar terus bersekolah, menjadi harapan semua pihak, terutama keluarga untuk terus memotivasi, memantau dan menjaga kesehatan anak-anaknya serta mendorong agar tetap sekolah.

Kini, Tania Rahakbauw telah kembali ceria, bersekolah dan bermain bersama teman-temannya. Semoga intervensi dari Pemerintah melalui Program GSC ini, dapat memicu adanya perubahan perilaku yang lebih baik kepada masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan, mampu menjaga generasi-generasi tetap sehat, giat belajar, dan terus bersekolah dengan baik. Sukses Bersama Membangun Generasi Indonesia.*

**
Penulis : Roby Labetubun (FK GSC Kecamatan Kei Besar)
Editor   : R. Leikawa (Staf Konsultan GSC Maluku)
Share:

Selasa, 08 Agustus 2017

GSC Ikut Menyukseskan Festival Pendidikan Maluku 2017

Stand GSC Maluku

Program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) Provinsi Maluku ikut menyukseskan Festival Pendidikan Maluku 2017 yang berlangsung pada tanggal 5 Agustus 2017 di Lapangan Merdeka Kota Ambon.
Kegiatan yang di gelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku itu bertemakan  “Rayakan Kemerdekaan Guru dan Murid”, ajang ini juga sekaligus untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke-72 Tahun, Dengan menggandeng Yayasan Heka Leka sebagai pelaksana utama, juga melibatkan beberapa intansi pemerintahan, pegiat pendidikan Maluku, Komunitas anak muda, tentunya juga Program Generasi Sehat Dan Cerdas.

Bukan Hanya Sekedar Stand Pameran, Tetapi Untuk Mengajak Semua Pihak Bersinergi

Pada Festival Pendidikan 2017 kali ini, GSC Maluku turut memberi warna dengan mengisi stand pada pameran, bukan sekedar menampilkan visualisasi, Fasilitator GSC dan Konsultan Manajemen Provinsi melakukan diseminasi kepada pengunjung tentang pentingnya pemenuhan hak dasar (Pendidikan dan kesehatan) bagi warga masyarakat menuju desa mandiri dan berdaulat.

Kunjungan Wakil Gubernur Maluku di Stand GSC Maluku
Antusias masyarakat yang berkunjung cukup ramai sejak pagi hari, tidak ketinggalan Wakil Gubernur Maluku. Dr. Zeth Sahuburua, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Mohammad Saleh Thio juga menyempatkan waktunya untuk melihat sekaligus diskusi dengan Tim Konsultan.

Kunjungan Orang Nomor Dua Maluku di Stand GSC disambut langsung oleh Korprov GSC Maluku Dwijo Darmono, KM-Nasional SP. Pendidikan Pepi Permadi, SPTR Maluku Arthur Rogi dan juga Korkab Pilot WB, mereka terlihat santai dan akrab saat berdiskusi sekaligus memperkenalkan Program GSC di Maluku.

Dalam diskusi tersebut, Wakil Gubernur Maluku Dr. Zeth Sahuburua, mengatakan bahwa “GSC sejalan dengan visi dan misi serta program kerja gubernur”. Dalam lanjutannya, dia berharap agar Program GSC terus berjalan.

kami beharap gsc terus ada, karena di 3 kabupaten ini, GSC banyak memberikan kontribusi terutama pemahaman tentang implementasi UU Desa No 6 2014”. Ungkap Sahuburua.

Kunjungan Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Provinsi Maluku di Stand GSC
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Mohammad Saleh Thio, juga memberikan apresiasi terhadap GSC dan para pelakunya, “GSC mengambil peran dalam penyediaan guru PAUD yg berkualitas melalui Pilot PAUD di Maluku Tengah”.

Bahkan pihaknya sangat berharap kedepannya ada kolaborasi lagi yang dapat dilakukan bersama, hal ini disampaikan dengan keinginannya untuk bisa bertemu kembali dalam rangka menyamakan pemahaman lanjut tentang GSC.

Korprov GSC sedang menjelaskan kegiatan GSC di Provinsi Maluku kepada Wakil Gubernur Maluku

GSC Memberikan Dampak Positif Pada Ajang Festival Pendidikan Maluku.

Selain mendapat respon positif dari Pemerintah Daerah Maluku, kehadiran GSC pada Festival Pendidikan tersebut juga disambut oleh masyarakat Kota Ambon, hal ini disampaikan oleh  para pengunjung. Ambil misal, Rani Pelupessy Aktivis GenPI Maluku yang setelah mendengar langsung penjelasan terkait keberadaan GSC di Maluku dirinya langsung memberikan apresiasi,  “Sukses buat GSC, semoga kedepannya bisa menyentuh semua Kabupaten di Maluku”, ujarnya.

Rani Pelupessy : Membaca Profil Duta GSC Maluku
Sementara itu, Lusi Peilow salah satu aktivis Perempuan Maluku, menuliskan komentarnya di facebook “Akhirnya bisa kenalan sama GSC Maluku, Sukses selalu ya”, yang dilanjutkan dengan komentar berikutnya “Semangat berkarya selalu untuk Generasi Maluku”. Tulis Lusi.

Namun, Perempuan yang sering membicarakan masalah pemberdayaan perempuan Maluku ini juga menyayangkan karena di Maluku GSC hanya ada di Tiga Kabupaten.

"GSC Merupakan salah satu terobosan yang cukup baik, sayangya di Maluku baru ada di 3 Kabupaten, ini perlu di dorong juga ke Kabupaten/Kota lain, terutama yang potensial kaum mudanya tetapi mati suri karena tidak adanya program strategis di daerah untuk menghidupkan mereka". Tegas Lusi

Lusi Peilow : Nampak sserius membaca tulisan-tulisan GSC

Melihat respon positif dengan kehadiran GSC Maluku pada Festival Pendidikan Maluku tersebut, Konsultan Manajemen Nasional Spesialis Pendidikan, Pepi Permadi yang juga menghadiri Festival Pendidikan tersebut, memberikan apresiasi kepada seluruh stakeholders pendidikan di Maluku, dia juga mengatakan bahwa dengan kehadiran GSC akan memberikan dampak positif bagi pengambil keputusan.
 “Keikutsertaan GSC dalam Festival di Provinsi dan Kabupaten, akan memberikan dampak positif bagi pengambil kebijakan, didukung data real tentang permasalahan dan jumlah sasaran berbasis desa”. Ungkap Pepi.

Pepi Permadi : KMN Sp. Pendidikan bersama anak-anak Maluku
Dikatakannya bahwa, GSC merupakan program fasilitasi masyarakat untuk menemukan/kenali masalah dan potensi di bidang Pendidikan dan kesehatan pedesaan. Melalui GSC secara bertahap masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap hak pendidikan dipenuhi atas dasar peran serta masyarakat di lingkungan terdekatnya.

Dalam lanjutnnya, Kang Pepi begitulah sapaan sehari-harinya, dia menegaskan bahwa hal tersebut diatas merupakan yang utama dalam membangun kepedulian masyarakat  terhadap  pemenuhan hak anak mendapat pendidikan dasar termasuk bagi ABK. Karena dalam menangani masalah pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial oleh pihak tertentu atau pemerintah saja, perlu adanya keterlibatan keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha dan kelompok peduli pendidikan, jelas pepi.          

Festival Pendidikan Maluku Sebagai Ajang Diseminasi Pentingnya Pemenuhan Hak Dasar Pendidikan Dan Kesehatan Masyarakat.

Selain berpusat di Kota Ambon, Festival Pendidikan juga dilaksanakan di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah yang berlangsung pada tanggal 3 Agustus 2017, dan juga di Kecamatan Kei Kecil Barat Kabupaten Maluku Tenggara.

Festival Pendidikan di Kei Kecil Barat Kab. Maluku Tenggara.  (Dok. Faskab Maluku Tenggara)
Pelaksanaan Festival Pendidikan ini juga merupakan bagian dari upaya dalam mewujudkan Sembilan Agenda Prioritas (Nawacita) Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusup Kalla  yakni Nawacita ke 3 “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan” dan Nawacita ke 5 “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat”.

Festival Pendidikan Kei

Festival Pendidikan Kei yang direncanakan pada tanggal 7 – 9 Agustus 2017 itu, langsung di motori oleh Tim Fasilitator GSC Kabupaten Maluku Tenggara sekaligus akan mengisi Workhsop, meskipun pada awalnya bersama Tim Konsultan Manajemen Provinsi  berencana menghadirkan Direktur Pelayanan Sosial Dasar Ditjen PPMD Kemendesa Hanibal Hamidi pada festival tersebut, namun karena kesibukan beliau hanya bisa diwakilkan oleh Bastaman Kusumadewa salah satu Kasubdit pada Direktorat PSD Ditjen PPMD Kemendesa.

Foto  Bersama Bastaman Kusumadewa  dengan Camat Kei Kecil Barat (Dok Faskab GSc Maluku Tenggara)
Bastaman Kusumadewa Bersama anak-anak Kei (Dok Faskab GSC Maluku Tenggara)
Semoga dengan keterlibatan GSC pada ajang Festival Pendidikan Maluku 2017 ini, dapat menambah semangat buat Fasilitator di lapangan dalam membangun kolaborasi, bersinergi dengan semua pihak untuk mewujudkan kedaulatan dan kesejahteraan desa dengan peningkatan kualitas Pelayanan Sosial Dasar di Desa. (RL)

Video Festival Pendidikan Maluku dapat dilihat Disini



Editor : SPTR Maluku
Share:

Kamis, 27 Juli 2017

Tangan Terampil Seorang Sekdes Kaitetu

Jafar Layn : Sekdes Kaitetu, 

Desa Berdasarkan Undang-Undang no 06 tahun 2014 memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal asul dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Desa adalah penyelenggara urusan pemerintahan dan kepenting masyarakat setempat dalam system pemerintah Negara Kesatuan Republik.

Urusan pemerintahan yang dimaksud adalah pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan peraturan desa, pembentukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan badan usaha milik desa, dan kerjasama antar desa. Selain itu mengurus pembangunan, urusan kemasyarakatan seperti pembedayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti bidang kesehatan, pendidikan, dan adat-istiadat.

Dalam pelaksanaan tugas penyelenggaraan pembangunan, pemerintah desa juga dituntut untuk mengelolanya berdasarkan asas transparansi, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran. Namun, pada kenyataannya pelaksanaan pembangunan di Desa terkadang tidak dilaksanakan berdasarkan asas-asas tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kurangnya kepercayaan sebagian masyarakat atas kinerja Pemerintah Desa (Pemdes).  Hal ini bukan berarti berlaku bagi keseluruhan Pemerintah Desa, namun ada juga Pemeritah Desa yang benar-benar dalam menjalankan Pembangunan Desa lebih berpihak kepada kebutuhan masyarakat Desa dengan mengedepankan asas-asas yang tertera di dalam Undang-undang Desa.

Negeri/Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku adalah salah satu Negeri yang Pemerintah Negerinya patut di acungi jempol karena betul-betul mengedepankan kebutuhan masyarakat terutama di Bidang Pendidikan dan Kesehatan. Adalah Jafar Layn, yang setiap harinya mengurus hal-hal Pemerintahan Negeri Kaitetu. Aba biasa Pria ini disapa merupakan anak asli dari Negeri yang kaya akan adat dan Budaya itu. Dipanggil Aba karena memang Pria ini usiannya tak muda lagi.
Aba memiliki ciri khas, Rambut Putih, ramah dan suka senyum setiap bertemu orang. Jabatan yang di pegangnya di Pemerintah Negeri adalah sebagai Sekretaris Desa (Sekdes). Selain menjadi Sekdes, beliau juga sering menjadi Imam di Mesjid di lingkungan tempat tinggalnya. Kendati usianya sudah separuh Abad, namun Pria ini masih terlihat lincah mengurusi berbagai macam keperluan Negeri. Misalnya, di setiap kegiatan-kegiatan Generasi Sehat Cerdas (GSC) yang langsung melibatkan Pemdes seperti Musyawarah-musyawarah, Aba selalu aktif mengatur kegiatan, mengumpulkan masyarakat serta memberikan ide-ide positif untuk pembangunan Negeri. Bagi Aba, jabatan sebagai Sekdes adalah amanat dari masyarakat yang betul-betul harus dilaksanakan sesuai harapan masyarakat.

Jafar Layn memfasilitasi proses Musyawarah di Negeri Kaitetu

Sejak Program GSC hadir di Kecamatan Leihitu khususnya Negeri Kaitetu, begitu membuat masyarakat Negeri seperti mendapatkan Rejeki. Sama halnya dengan Aba. Beliau selaku Pemdes begitu antusias menyamput Program GSC kala itu. Dia merasa sangat bersyukur karena sejauh ini pemenuhan kebutuhan Kesehatan maupun Pendidikan di Negeri Kaitetu belumlah maksimal.

Diakuinya, masih banyak persoalan, khususnya Kesehatan maupun Pendidikan yang belum tertangani dengan baik. Misalnya, masih ada Ibu Hamil jarang periksa ke layanan Kesehatan, mereka masih berhubungan dengan dukun-dukun kampung. Kemudian Balita gizi kurang, Anak Berkebutuhan Khusus, anak Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama yang putus sekolah akibat Ekonomi lemah.

Selama kurun waktu 5 tahun sejak 2012-2016, Aba bersama Pelaku-pelaku GSC Negeri Kaitetu menjadi ujung tombak bagi masyarakat. Mereka memperjuangkan hak-hak Ibu Hamil, hak-hak anak untuk memperoleh kebutuhan Kesehatan dan Pendidikan yang layak. Banyak sudah kegiatan-kegiatan Kesehatan dan Pendidikan yang di fasilitasi oleh GSC melalui tangan trampil Aba dan teman-teman Pelaku GSC. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan di Negeri Kaitetu melalui sumber dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yakni memfasilitasi anak-anak yang putus Sekolah untuk kembali bersekolah, memberikan bantuan Kaca mata bagi anak-anak Sekolah yang terganggu proses belajarnya karena gangguan penglihatan, Pemberian Makanan Tambahan Bagi Ibu Hamil KEK, Pemberian Makanan Tambahan bagi Balita Gizi Kurang dan BGM. Tidak hanya itu, Aba juga gencar memberikan pemahaman kepada masyarakat Kaitetu khususnya orang tua agar selalu memperhatikan anak-anak mereka terutama untuk masalah Kesehatan dan Pendidikan.
 
Foto Bersama Penerima Manfaat, FK GSC dan Pengurus UPK Leihitu
Kini di tahun 2017 GSC tidak lagi memberikan BLM kepada masyarakat Negeri. Hal ini juga sempat membuat masyarakat sedih dan takut jika kedepannya tidak ada lagi pihak yang mau peduli terhadap masalah Kesehatan dan Pendidikan, kendati saat ini ada Dana Desa yang dititipkan Pemerintah Pusat dimana penggunaannya juga untuk menanangani masalah Pelayanan Sosial Dasar (PSD) yakni Kesehatan dan Pendidikan.

PSD Tetap Menjadi Prioritas

Rupanya pemikiran Aba berbeda, dia tetap optimis bisa menyelesaikan persoalan PSD yang ada di Negerinya itu. Bagi Aba walaupun di tahun 2017 tidak ada BLM dari GSC namun kegiatan-kegiatan PSD tetatp terakomodir melalui Dana Desa.

Aba adalah salah satu Potret Pemerintah Desa yang tidak semena-mena dalam mengatur roda Pemerintahan dan Pembangunan Desa. Dominannya peran pemerintah desa, dalam hal ini kepala desa, Sekertaris Desa maupun perangkat desa lainnya dalam pelaksanaan pembangunan pedesaan tentu tidak hanya melanggar essensi dari tujuan dilaksanakannya pembangunan pedesaan, yaitu mensejahterakan masyarakat desa tanpa mengabaikan azas pelaksanaan pembangunan yaitu transparansi, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.


Kontributor : Nana Rohana (FK GSC Kecamatan Leihitu)
Editor          : R. Leikawa (Staff Konsultan GSC Maluku)




Share:

Sabtu, 15 Juli 2017

Demi Membangun Negeri, Rela Menelusuri Jalan Berlumpur

Selain di Kecamatan Kei Besar Utara Timur seperti pada postingan sebelumnya Baca Disinikondisi lain yang mengharuskan Tim Fasilitator Kecamatan melakukan perjuangan super ekstra adalah di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. 
Kecamatan ini sebenarnya tergolong kecamatan sangat sulit, memiliki 20 Negeri/Desa, dibeberapa Desa lokasi GSC sampai saat ini akses jalan kesana masih dibilang sangat memprihatinkan, seperti pada negeri administratif Solea, Kaloa, Manusela, Kanikeh, Negeri Administrativ Elemata, Negeri Administrativ Hatuolo dan Negeri Maraina.
Sama halnya dengan Kondisi Kecamatan Kei Besar Utara Timur, di Seram Utara listriknya juga tidak normal, hanya bisa berfungsi dari jam 5 sore sampai jam 8 pagi.
Khusus untuk Negeri Administratif Solea, perjalanan yang harus ditempuh kesana membutuhkan waktu 7 jam lamanya bila berjalan kaki dari Ibu Kota Kecamatan Seram Utara, disana tidak ada angkutan reguler sehingga masyarakat terpaksa berjalan kaki, posisi wilayahnya ada pada dataran tinggi (Pegunungan Manusela). Akses jalan tanah, berlumpur dan beberapa jembatan seadanya menyebabkan Negeri Solea ini kurang mendapatkan pelayanan, terutama pelayanan kesehatan dan pendidikan. Disinilah tugas berat Fasilitator untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat setempat.

Asisten FK Seram Utara bersama salah satu masyarakat
Dalam perjalanan menuju Kota usai melakukan MD SOS di Neg. Administratif Solea
Kondisi geografis yang dibilang sangat sulit tersebut, tidak menjadi halangan untuk mereka berjuang menelusuri lumpur dan jalan yang tidak layak, ini malah menambah semangat untuk membantu memberdayakan masyarakat walaupun harus melepas sandal dan sepatu untuk menuju ke Negeri Administratif Solea. Salah satunya dengan kegiatan sosialisasi program GSC untuk menjembatani kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang selama ini kurang dirasakan oleh masyarakat.


Masyarakat sangat berterima kasih dan ingin terus agar Program GSC tetap berlanjut, serta memperhatikan kebutuhan dasar yaitu pendidikkan dan kesehatan. Pada saat tim Fasilitator Kecamatan melakukan Musyawarah Desa Sosialisasi di Negeri Solea, ada banyak masalah yang mereka dapatkan dari masyarakat terkait keberpihakan dan pelayanan yang mereka rasakan. Hal ini juga berkaitan dengan letak Negeri Solea yang jauh dari pusat kota mempengaruhi semua bidang sehingga terkesan tertinggal.

Namun dengan kehadiran Fasilitator Kecamatan di Negeri tersebut, masyarakat merasa kebutuhannya yang selama ini tidak bisa dijangkau dapat terjawab, bahkan salah satu masyarakat menyampaikan harapannya kepada Tim Fasilitator Kecamatan, 

“Ibu katong mau ibu dong saja yang kelola dana untuk pendidikan dan kesehatan, sebab GSC paleng perhatikan katong, katong paleng rasa sanang", Ujar salah satu masyarakat Solea.

Dengan bahasa lokalnya salah satu masyarakat setempat menyampaikan harapannya usai MD Sosial kepada Hedia Pattiwael Asisten FK Seram Utara, yang jika diartikan bahwa besar harapan masyarakat menginginkan agar GSC tetap berlanjut, mengelola dana untuk pendidikan dan kesehatan, karena hanya GSC yang sangat memperhatikan mereka, masyarakat merasa senang dengan kehadiran GSC.

Mendengar ungkapan masyarakat tersebut, sudah bisa diketahui bahwa pengaruh Fasilitator Kecamatan dalam meyakinkan masyarakat untuk bersama berpartisipasi membangun negeri dari keterpurukan. Bahwa keberadaan Fasilitator GSC sudah tidak diragukan lagi.

Disisi lain, pihak Fasilitator Kecamatan sendiri sebenarnya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah Negeri, semua proses berjalan dengan baik. Sehingga kegiatan Pelayanan Sosial Dasar masuk dalam APBDes Negeri Administratif Solea seperti Pemberian Makanan Tambahan untuk balita dan Ibu Hamil, Peningkatan Kapasitas Kader dan insentifnya, penyediaan obat-obatan, serta PAUD.  

Penandatanganan Berita Acara MD SOS
Kepercayaan masyarakat terhadap Tim Fasilator GSC justru menambah angin segar untuk terus memperjuangkan hak-hak mereka, meskipun bertugas pada lokasi sulit tetapi keyakinan bersama untuk membangun negeri sudah menyatu dengan masyarakat. (RL)



Share:

Jumat, 14 Juli 2017

Beralaskan Cinta, Fasilitator GSC Tetap Setia di Wilayah Ekstrim

Perjalanan dari Tuburlay ke Renfaan melewat pantai

Ada yang menarik dari beberapa Fasilitator GSC Maluku yang ditugaskan pada wilayah Kecamatan ekstrim, mereka tampak begitu menikmati hari-harinya berjuang dengan fasilitas seadanya, akses jalan yang tidak layak, jaringan internet yang tidak terjangkau, transportasi terbatas bahkan listrik pun tidak normal seperti pada daerah perkotaan. Itu bukanlah kendala untuk mereka, karena sejatinya Fasilitator Kecamatan yang merupakan ujung  tombak dari program GSC ini merupakan laskar sejati yang ditugaskan untuk memberdayakan masyarakat miskin agar bisa mandiri dengan sumber daya yang telah tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik, memfasilitasi masyarakat supaya bisa mendapatkan layanan secara merata, serta membantu pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

Masuk Keluar Ohoi Dengan Jalan Kaki Berkilometer

Katakanlah Ricardho. E. A. Somnaikubun FK GSC Kecamatan Kei Besar Utara Timur, Kabupaten Maluku Tenggara dengan assistennya, Simson M. Rahayaan, setiap kali melakukan kunjungan ke beberapa Ohoi/Desa selalu berjalan kaki, bukan karena mereka tidak memiliki kendaraan tetapi akses jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui dengan kendaraan.
Di Kecamatan Kei Besar Utara Timur  memilki 30 Ohoi/Desa yang berada di pesisir Pulau Kei Besar sebelah timur. Dari 30 Ohoi tersebut ada yang sudah di aspal namun ada juga yang belum, bahkan jalan setapak pun tidak ada.

Kondisi Jalan Yang Masih Dalam Pekerjaan
Akses Jalan yang sudah di aspal baru menjangkau 11 Ohoi, meskipun jalan aspal tersebut tidak terlihat licin dan kurang lebar, namun setidaknya bisa mempermudah masyarakat dalam beraktivitas. 11 ohoi tersebut adalah Yamtimur, Kilwair, Tuburngil, Ohoiwirin, Hollay, Hoko, Hollat, Hollat Solair, Ohoifau, Ohoifaruan dan Ohoi Watlaar.

Sementara 19 ohoi tersisa dapat ditempuh dengan akses jalan gusur (belum diaspal) yakni Ohoi Banda Efruan, Banda Suku 30, Banda Ely, Tuburlay, Fanwav, Renfaan, Renfaan GPM, Renfaan Islam, Langgiar Haar, Ohoimejang, Ur, Haar Wassar, Haar Ohoiwait, Haar Ohoimel, Haar Renrahantel, Haar Ohoimur GPM, Haar Ohoimur RK, Ohoiraut, dan Ohoi Soin. Dari 19 Ohoi yang belum memiliki jalan aspal tersebut mengharuskan warga setempat untuk melakukan aktivitas dengan berjalan kaki  bila hendak bepergian.
Kondisi Jalan Aspal di Kecamatan Kei Besar Utara Timur

Di Kecamatan Kei Besar Utara Timur, akses perhubungan antar ohoi sangat dipengaruhi oleh musim. Disana terdapat dua musim yaitu Musim Timur (dari bulan Maret s/d bulan September) dan Musim Barat (dari bulan Oktober s/d Febuari). Pada Musim Barat terjadi Gelombang laut sehingga akses transportasi ke ohoi-ohoi tidak dapat menggunakan transportasi laut. Transportasi laut hanya dapat digunakan pada Musim lainnya, namun tidak ada transport reguler sehingga harus di carter.

Untuk daerah lokasi GSC yang harus lewati laut adalah Ohoi Renfaan, Renfaan GPM, Renfaan Islam, Langgiar Haar, Ohoimejang, Ur, Haar Wassar, Haar Ohoiwait, Haar Ohoimel, Haar renrahantel, Haar Ohoimur GPM, Haar Ohoimur RK, Ohoiraut, Soin.
 
Transportasi Laut yang biasa digunakan FK, Asisten FK bersama UPK, POKJA dan PL

Melihat kondisi tersebut, tidak mengurangi sedikit pun semangat FK dan Asisten FK Kei Besar Utara Timur dalam memperjuangkan hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan. Meskipun harus berjalan kaki dari Ohoi ke Ohoi, melewati pesisir pantai, menyeberangi lautan, mendaki jalan yang terjal dan licin bila musim hujan, tapi mereka tetap berusaha keras untuk bisa sampai ke ohoi.

Richardo Somnaikubun yang sudah lima tahun lamanya menjadi Fasilitator di Kabupaten Maluku Tenggara mengaku enjoy menjalani hari-harinya di wilayah ekstrim, meskipun awalnya dia bertugas pada kecamatan Kei Kecil, kini dirinya telah tiga tahun lamanya melakukan perjuangan di Kei Besar Utara Timur dengan Asisten FK Simson, M. Rahayaan yang tak lain adalah mantan PL di kecamatan Kei Besar yang juga merupakan salah satu wilayah ektrim di Maluku Tenggara.

 Richardo E. A. Somnaikubun FK GSC Kecamatan Kei Besar Utara Timur, melintasi hutang saat melakukan perjalanan dari Ohoiraut ke Haar Ohoimel 

Kondisi geografis Kei Besar Utara Timur, menjadikan Tim Fasilitator Kecamatan merasa terbiasa bahkan seperti melakukan petualangan di daerah yang sering juga disebut dengan istilah Raschab Maur Ohoiwut yakni wilayah kumpulan beberapa Desa Adat. Dengan menggunakan ransel, pembekalan seadanya mereka pun bergegas melakukan perjalanan ke Ohoi untuk melakukan fasilitas terhadap masyarakat. Misalnya ketika mereka tiba hendak ke Ohoi Renfaan, maka harus melewati Ohoi Tuburlay terlebih dahulu menelusuri pesisir pantai yang penuh dengan batu-batu besar. Namun tiada pilihan lain akses jalan ini sebagai alternatif tercepat untuk mencapai lokasi yang dituju.

Menurut Ricardo, sebenarnya ada jalan setapak untuk menuju Ohoi berikutnya, akan tetapi jalan tersebut masih dalam kondisi setapak tanah belum di aspal atau dibikin rabat beton, sehingga bila musim hujan tiba,  jalan tersebut licin untuk dilewati apalagi berada pada posisi di atas, maka para pejalan kaki diwajibkan untuk mendaki, sehingga alternative yang lebih memudahkan mereka adalah dengan melintasi pesisir pantai sepanjang 1,5 Km.

Jadi bayangkan saja jika kondisi seperti ini diperhadapkan dengan musim ombak dan musim hujan, sudah tentunya akses jalan menuju Ohoi Renfaan tidak bisa dijangkau lagi.
Kondisi sulitnya akses jalan lainnya yang sering di lewati oleh Tim Fasilitator Kecamatan Kei Besar Utara Timur adalah Perjalanan dari Ohoi  Banda Ely ke Fanwav yang harus melalui menaiki 1000-lebih anak tangga karena letak Ohoi Fanwav berada di dataran tinggi (diatas 100 DPL), jalan menuju Ohoi Banda Ely pun juga tidak bisa dilewati dengan kendaraan, sebab saat ini masih dalam proses perbaikan jalan.

Minim Penerangan, Tim Fasilitator Kecamatan Harus Patungan

Terkait dengan kondisi penerangan, di Kecamatan Kei Besar Utara Timur, tidak semua daerahnya bisa menikmati listrik secara normal, dari 30 Ohoi yang disebutkan diatas sampai saat ini baru 2 ohoi yang mendapatkan penerangan dari PLN yakni ohoi Yamtimur dan Kilwair. Itu pun hanya bisa dinikmati dari jam 6 sore sampe jam 12 siang. Sementara untuk ohoi yg lain ada bantuan dari Bupati untuk Mesin Listrik dengan bahan bakar solar yang bisa digunakan dari jam 6 sore sampai jam 10 malam saja dengan Retribusi per KK Rp. 50.000/bulan.     


Saat ini Tim Fasilitator Kecamatan berkantor di rumah Pendamping Lokal (PL), karena sejak PNPM MPd berakhir mereka terkendala dengan biaya sewa kantor, hal ini disebabkan karena biaya operasionalnya kecil, mereka harus mencari kontrakan yang juga disediakan mesin, sampai saat ini mereka masih menggunakan mesin di rumah PL, itu pun biaya pemakainya harus ditanggung bersama oleh FK, Asisten FK  dan operasional UPK, dengan pemakaian solar 5 liter bisa diirit selama tiga hari mulai dari jam 7 malam sampai jam 12 malam. (RL)       


Keterangan:
Ohoi : Desa
Share: